Rivew buku Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat
Hallo sahabat bloger!!
Pada kesempatan kali ini saya akan berbagi ilmu nih,
jadi semenjak pandemi covid-19 saya dipulangkan dari tanah rantau oleh kampus
saya tercinta. Rasanya sedih senang campur aduk pokoknya, pasalnya pada saat
itu saya tengah melangsungkan Ujian Tengah Semester. Beberapa mata kuliah yang
belum diujikan dilaksanakan secara online di rumah. Selama di rumah aja, saya
melangsungkan kuliah online, selain itu disela-sela kuliah online saya
menyempatkan diri untuk memberbanyak literasi yaitu dengan membaca buku. Sudah
sejak lama saya penasaran dengan isi dari buku yang berjudul Sebuah Seni
Bersikap Untuk Bodo Amat karangan Mark Manson.
Judul buku Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat atau
The Subtle Art Of Not Giving F*ck, membuat saya semakin penasaran dan sejenak
mengerutkan kening dan berpikir bahwa buku tersebut memakai kata-kata yang
cenderung vulgar, kasar (f*ck), dan tidak memberi nilai-nilai dan pengaruh yang
baik dalam diri. Akan tetapi dugaanku salah, ternyata di dalam buku ini
terdapat nilai-nilai kehidupan yang selama ini saya cari dan/atau nilai
sebenarnya saya rasakan tetapi saya menolak untuk menyadari dan bahkan berusaha
untuk mengingkarinya. Oleh karenanya, saya ingin berbagi sedikit mengenai buku
ini kepada sahabat bloger.
Awal membaca kata bodo amat di awal judul saya telah
terheran-heran, karena menurut sepengetahuan saya makna dari bodo amat ialah
suatu sikap ketidakpedulian terhadap sekitar. Jadi, aneh rasanya jika sikap
bodo amat ini malah justru dianjurkan pada buku ini. Eitss, tapi itu salah Mark
Manson menjelaskan apa yang dimaksud dengan bodo amat ini pada halaman 14.
Masa
bodo atau bodo amat artinya memandang tanpa gentar tantangan yang paling sulit
dalam kehidupan dan mau mengambil suatu tindakan.” -hlm 14
Dari kalimat dan pendifinisian tersebut dapat kita
maknai. Bahwa kematian menjadi alasan
mendasar mengapa kita harus bodo amat. Mengapa demikian? Karena kita dan setiap
orang yang kita kenal pasti akan meninggal suatu saat nanti dan dalam waktu
yang singkat itu perhatian yang kita miliki terbatas dan sangat sedikit, oleh
karena itu jika kita memedulikan setiap hal dan setiap orang tanpa pertimbangan
atau pilihan yang matang maka hidup kita akan kacau.
Buku ini mengajarkan kita tentang seni untuk bodo
amat. Saya merangkumnya kedalam 3 seni untuk bodo amat.
Seni #1 : Masa bodoh bukan
berarti menjadi acuh tak acuh; masa bodoh berarti nyaman saat menjadi berbeda.
Hal yang menarik dari poin ini adalah ketika
Mark menjelaskan bahwa faktanya, orang yang masa bodoh itu sebenarnya TERLALU
PEDULI. Mereka adalah orang-orang yang takut menerima dirinya sendiri dan lebih
sering terganggu dengan perkataan orang lain dalam berbagai hal yang melekat di
dirinya, sehingga akan berusaha sebaik mungkin menampilkan sosok yang istimewa.
Seni #2 : Untuk bisa mengatakan
“bodo amat” pada kesulitan. Pertama tama Anda harus peduli terhadap sesuatu
yanng jauh lebih penting dari kesulitan.
Sebagai orang Indonesia yang kepo kita berada
di lingkungan yang ingin tau segalanya. Jadi secara tidak sadar, kita sudah
memberikan kepedulian kita kepada hal yang tidak penting. Misalnya mantan
ngepost di Instagram bareng pacar baru, atau peduli hal kecil seperti “Ini kok
baterai laptop cepat sekali habisnya, baru 2 jam dipakai main game online”, dan
masih banyak sekali. Sering sekali kepedulian remeh ini memunculkan rasa tidak
aman atau khawatir yang berlebihan, yang pada puncak nya kita akan merasa
kesulitan melakukan apapun hanya karena peduli pada mantan yang sudah move on.
Kesulitan kesulitan ini yang harus mendapatkan sikap bodo amat kita (terutama
mantan).
Perhatian kita telah dicuri oleh hal hal yang
remeh tersebut, sehingga kita lupa atau bahkan tidak punya sesuatu yang penting
yang harus dilakukan. Sehingga poin dari seni kedua ini adalah kita harus
menemukan atau memilih sesuatu yang penting dan layak mendapatkan perhatian
kita.
Karena jika anda tidak menemukan
sesuatu yang penuh arti, perhatian Anda akan tercurah untuk hal — hal yang
tanpa makna dan sembrono.
Seni #3 :
Entah Anda sadari atau tidak, Anda selalu memilih suatu hal untuk diperhatikan
Seni yang
ketiga ini sebenarnya adalah sambungan dari seni #2. Seperti yang saya bilang
kalau orang Indonesia itu kepo, kita sejatinya tidak bisa untuk tidak peduli.
Bahkan orang orang tidak dilahirkan dalam keadaan tanpa kepedulian.
Peduli pada
hal hal remeh itu tidak memberikan pengaruh positif dalam hidup kita. Penolakan
mantan yang lebih memilih dia. Baterai laptop yang bikin kita risau harus cari
colokan, komentar tetangga yang nyiyirin kita kapan nikah. Semakin dewasa kita
mulai sadar bahwa sebagian hal tersebut hanya berdampak kecil dalam hidup kita,
dan tidak memperhitungkan hal hal tersebut serta menjadi lebih selektif.
Sehingga saat kita memasuki usia paruh baya, meskipun sudah renta dan energi
berkurang namun kita sudah yakin pada identitas diri kita dan mulai menjalani
hidup apa adanya serta menerimanya.
Hidup terus
berjalan. Jadi, sekarang ini kita bisa menyisihkan perhatian kita yang semakin
berkurang untuk hal hal yang benar benar layak dalam kehidupan kita : Keluarga
kita, teman teman terbaik kita, ayunan golf kita.
Dan heran nya,
hal — hal itu sudah cukup membahagiakan. Penyederhanaaan ini sesungguhnya
membuat kita senantiasa merasa sangat bahagia.
Tiap bagian
dari buku ini mengubah sudut pandang kita tentang kepedulian, yang dari lahir
sudah ada dalam diri kita. Sehingga kita dapat mengendalikan, membatasi,
kepedulian kita, serta memilih hal hal penting saja yang harus dipedulikan.
Satu hal yang harus diperhatikan ketika membaca buku ini : JANGAN BAPERAN. Ya.
jangan baperan, Buku ini tidak seperti buku pengembangan diri lainnya, dengan
kata kata positif, semangat, dan membangun. Jangan harap. Saat membuka bab
pertama, hati saya sudah digejolakkan dengan pernyataan berikut
Poin menarik lainnya,
Mark menjelaskan beberapa nilai umum yang sangat buruk bagi kita, yaitu : (1.)
Kenikmatan, (2.) Kesuksesan Material, (3.) Selalu Benar, (4.) Tetap positif.
Terdengar familiar?? sikap “positif” ini
justru membawa keburukan bagi hidup kita, karena justru merupakan bentuk
penghindaran terhadap masalah, dan tidak membuat masalah itu selesai.
Akhir kata,
Buku ini cocok bagi yang menyukai buku self-improvement dengan
penyampaian yang asal njeplak, ga manis manis, dan menusuk. Sangat
disarankan bagi beberapa orang yang ingin segera bangun dari mimpi yang
indah-indah terus dan/atau orang yang lagi dalam keadaan yang sangat terpuruk.
Buku ini obat yang manjur buat kalian.

Komentar
Posting Komentar