Dari Overthinking ke Overwriting : Journaling Mengubah Jalan Hidup

Dewasa ini, massif nya percepatan teknologi banyak mengubah sudut pandang akan kehidupan. Perkembangan sosial media mempercepat transformasi cara manusia menjalani hidup. Hadirnya media sosial membuat kehidupan manusia menjadi semakin terbuka dan mudah di akses. Manusia berbondong-bondong menceritakan pencapaian hidupnya melalui platform yang mereka miliki. 

 source : istock

Di sisi lain, banyak manusia yang menggunakan perasaannya ketika menatap cerita hidup orang lain. Otak merangsang perasaan tersebut, memunculkan berbagai pertanyaan. Antar-neuron saling terhubung dan berakhir pada pikiran-pikiran yang dibuat oleh dirinya sendiri. Bayang-bayang pikiran tersebut menghantui kehidupan sehari-hari, memunculkan banyak skenario masa depan yang belum pasti terjadi. Rasa cemas, gelisah muncul silih berganti akibat ketidakpastian yang sebenarnya belum nyata. Sederhanya kondisi ini sering disebut dengan istilah overthinking (Younus et al. 2024). 

Pikiran-pikiran penuh ketidakpastian perlahan  menganggu aktivitas sehari-hari. Hari terasa berjalan semakin rumit, dan kemampuan berpikir jernih semakin menyempit. Fenomena ini bukan lagi sekadar masalah nasional, melainkan telah menjadi fenomena global. Banyak orang memutuskan menutup social media, karena merasa hidupnya tertinggal. Padahal, setiap manusia memiliki garis waktunya sendiri. 

 
source : pinterest

Kesalahan dalam memandang kehidupan, sering muncul pada fase menuju dewasa, yang kerap disebut sebagai quarter life crisis. Dari analisaku sendiri, banyak orang di sekitarku mengalamai hal tersebut saat mendekati usia 25 tahun. Seolah menjadi pola kehidupan yang umum, hampir semua manusia melewati fase ini. Jika dilihat dari pespektif science, dalam ilmu neuronscience, kematangan bagian otak depan manusia, yaitu pefrontal cortex terjadi pada usia 25 tahun. Bagian ini berperan dalam pengambilan keputusan, pengendalian emosi, dan pemikiran rasional. Oleh karena itu, overthinking bisa menjadi bagian dari proses pematangan tersebut.

Aku pun merasakannya ketika memasuki usia 24 tahun. Hari berjalan begitu lambat dan melelahkan. Tubuhku lelah, tetapi pikiranku tidak benar-benar berhenti. Ibaratkan bola, terus berjalan memproses berbagai kemungkinan dan ketidakpastian. Aku mencoba mencari berbagai solusi. Salah satu titik terang justru datang dari percakapan sederhana dengan seorang teman yang telah melewati fase tersebut. Dari sana, aku mulai memahami bahwa apa yang kurasakan bukanlah kelemahan, melainkan bagian dari proses menjadi dewasa.

Berbagi cerita dengan orang lain, memang mampu meredakan riuhnya isi kepala, namun tidak bertahan lama. Pikiran-pikiran itu terus kembali, seolah menemukan jalannya sendiri. Hingga akhirnya, aku menemukan salah satu cara yang cukup ampuh, dengan journaling. 

                                                                    source : pinterest

Journaling bagiku merupakan proses menuangkan pikiran di selembar kertas. Menulis manual dengan bolpoint diatas kertas kosong terasa menciptakan zona aman bagiku, bagaikan karya seni mahal kala itu. Sederhana, namum bisa meluruhkan seisi otak yang riuh. Menulis mampu merefleksikan apa yang sebenarnya kurasakan, tanpa tekanan, tanpa penilaian. 

Dengan journaling, mampu melegakan riuhnya isi otak. Hal-hal yang sebelumnya terasa besar di dalam kepala, menjadi lebih rasional ketika tertulis. Journaling tidak menghilangkan masalah, tetapi membantu mengurai kekacauan yang ada di dalam diri. Tidur menjadi lebih teratur, emosi menjadi lebih stabil, dan aku mulai memahami diriku sendiri dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Aku menyadari bahwa setiap pikiran dan perasaan layak untuk divalidasi, bukan dihindari. Emosi yang ditekan tidak pernah benar-benar hilang; ia hanya menunggu waktu untuk muncul kembali. Journaling memberiku ruang untuk menghadapi semua itu dengan jujur.

Overthinking membuatku tenggelam dalam pikiranku sendiri. Namun, overwriting membantuku berenang, bahkan melesat lebih jauh dari yang pernah kubayangkan.

Referensi :
Younus F, Gul S, Munawar Z. (2024). Relationship of overthinking with professional life stress and jobsatisfaction among professionals. International Journal of Business and Economic Affairs (IJBEA). 9 (3) : 16-24.


Komentar

Postingan Populer