Sudut Pandangku tentang Bandung

        Bandung, salah satu kota nostalgia di Indonesia, setelah Yogyakarta, Malang, Surabaya, Solo, Semarang dan kota lainnya. Aku menyebutnya sebagai kota nostalgia, karena setiap sudut kota ini sangat legit dengan bangunan tua bergaya Eropa. Bangunan tersebut masih berdiri kokoh,  memberi sentuhan ingatan ke masa lalu. Beberapa bangunan tua tersebut dialih fungsikan menjadi coffee, kantor BANK, bahkan ada yang masih sesuai dengan fungsi awalnya sebagai apotek, saat ini dikenal sebagai kimia farma, salah satu anak BUMN di Indonesia.  Apabila ke Bandung, bangunan tua khas peninggalan jaman penjajahan ini mudah ditemukan di pusat kota Bandung, salah satu tempat yang populer yakni Braga. 

        Braga merupakan nama jalan di kota Bandung yang kini menjadi pusat pergerakan ekonomi kota Bandung. Setiap detik nya silih berganti manusia lalu lalang di jalanan Braga, mencari sesuatu yang khas dari kota Bandung. Salah satunya kuliner, Braga menjadi pusat kuliner kota Bandung. Disini sangat mudah ditemukan jajaran makanan viral. Braga terhitung menjadi salah satu destinasi yang wajib dikunjungi ketika berwisata ke Bandung. Hal unik lainnya yang bisa ditemukan di Braga ialah manusia cosplay. Sepanjang jalanan di Braga, banyak ditemukan manusia cosplay menjadi sosok tertentu, seperti tokoh-tokoh anime atau  hantu khas di Indonesia. Ketika melewati area ini di malam hari, bulu kuduk dibuat merinding. Manusia cosplay ini memberikan hiburan bagi wisatawan yang berkunjung. 

    Di sekitaran Braga, tepatnya di jalan Asia-Afrika, alun-alun dan Masjid Agung Bandung berada. Tata letaknya di tengah kota, sehingga bisa menjadi destinasi kedua setelah berjalan letih di Braga. Di alun-alun banyak dijumpai pedagang cuanki kaki lima. Harga seporsinya beragam. Mulai dari sepuluh ribu rupiah, sudah cukup menghangatkan perut dan badan yang kedinginan, sekaligus mengisi energi setelah letih mengelilingi Braga. Di dekat Alun-alun terdapat halte pemberhentian bus trans Jawa Barat. Di sampingnya persis, banyak angkot daerah sedang menunggu penumpang. Kedua hal ini, cukup membuat lalu lintas di sepanjang jalan Braga - Asia Afrika macet. Ditambah dengan lalu lalang manusia yang memenuhi jalanan, meningkatkan kepadatan lalu lintas. Polisi pun siaga mengatur kelancaran lalu lintas setiap masuk long weekend atau hari weekend biasa. Namun, macetnya Braga masih bisa dibilang ramai lancar jika di bandingkan dengan macetnya Jakarta yang cukup membuat mood naik turun di setiap waktu. 

    Berbicara Jakarta, aku merupakan mantan perantau di Jakarta yang saat ini berpindah ke Bandung. Jangan ditanya, tentunya sangat berbeda dalam segala hal dengan Jakarta. Mulai dari tatanan kota, udara, kenyamanan, transportasi umum, budaya kerja, hingga karakter manusianya. Kesan pertamaku dengan kota Bandung ini adalah dingin. Dinginnya sampai menusuk tulang rusuk. Mandi pagi pun menjadi enggan. Cuaca dingin ini membuat tubuhku kesulitan beradaptasi di satu bulan awal, kulit menjadi kering dan mengelupas layaknya ular. Namun, masalah tersebut berlalu, tergantikan dengan lembutnya tahu susu kota Bandung ini. Luar biasa dinginnya, membuatku menggerutu setiap bangun pagi. Namun aku pun tidak bisa melakukan hal lain, kecuali berlindung dibalik selimut dan pakaian tebal. Seiring bergantinya bulan, Bandung pun menunjukkan panasnya. Teriknya kota Bandung masih bisa diterima, panasnya sejuk, angin pun masih terasa segarnya. 

    Selebihnya, kota Bandung ini, sangat kaya dengan kulinernya, aku banyak menemukan menu-menu makanan baru dan unik disini. Bisa dibilang surga dunia olahan per-acian. Banyak ditemukan makanan berawalan ci, seperti cilok, cimol, cibay, cireng dan masih banyak lainnya. 

Bandung bukan hanya kota yang kusinggahi, melainkan kota yang perlahan mengajarkanku cara memperlambat hidup.


source : dokumentasi pribadi


Komentar

Postingan Populer